PT International Nickel Indonesia

PT International Nickel Indonesia (Inco) dituntut membayar denda Rp5 miliar dalam sidang kasus perambahan hutan lindung di Dusun Seba-seba, Desa Mahalona, Kecamatan Towuti, di Pengadilan Negeri (PN) Malili, kemarin.

Jaksa penuntut umum Zakaria Ali Said dan Mansyur juga menuntut empat pejabat PT Inco dengan hukuman dua tahun penjara dalam kasus yang sama. Empat petinggi PT Inco, yaitu Wakil Presiden Direktur Claudio Bastos, Direktur PT Inco Chiho D Bangun, General Manager Project Development Vale Inco Peter Fenato, dan Manajer PT Inco Parulian Marpaung.

Sebelum membacakan tuntutan setebal 127 halaman, kedua JPU menyebutkan, empat terdakwa melanggar Undang- Undang (UU) No 41/1999 tentang Penggunaan Hutan Lindung Tanpa Izin dan UU No 23/1997 tentang Pengolahan Lingkungan Hidup karena melakukan perambahan hutan dalam kawasan hutan lindung Dusun Seba-seba, Desa Mahalona, Towuti.

Keempat terdakwa dianggap sebagai orang yang paling bertanggung jawab atas keluarnya kebijakan di perusahaan multinasional itu. Akibatnya, terjadi perambahan hutan lindung di Seba-seba. Kebijakan tersebut menimbulkan kerusakan hutan. Hal itu diperkuat dengan fakta lapangan Dinas Kehutanan Luwu Timur yang menemukan pengupasan atau pembukaan lahan sekitar 4.000 meter persegi di hutan lindung Sebaseba.

Kawasan kawan hutan Seba-Seba selama ini dikenal sebagai jalur penghubung antara blok Sorowako, Sulawesi Selatan dengan Bahu Dopi, Sulawesi Tengah. “JPU berpendapat empat terdakwa terbukti sah dan meyakinkan bersalah melanggar UU No 41/1999, sehingga meminta majelis hakim menjatuhkan pidana penjara selama dua tahun. Selain itu menjatuhkan denda Rp5 miliar kepada manajemen PT Inco, tempat empat terdakwa bekerja,”ujar Zakaria membacakan tuntutannya.

Atas tuntutan JPU tersebut, kuasa hukum empat petinggi PT Inco Luhut Pangaribuan akan mengajukan pledoi atau pembelaan pada persidangan berikutnya, Selasa pekan depan. Pangaribuan menilai, tuntutan JPU kepada kliennya tidak berdasar.

“JPU tidak melihat fakta persidangan yang tidak satu pun mengarah pada keterlibatan klien saya dalam dakwaan yang diajukan. Contohnya, dari 17 saksi yang dihadirkan di persidangan, tidak satu pun saksi yang kapabel. Tidak ada saksi yang mengaku pernah melihat, mendengar, dan mengalami kejadian tersebut,” paparnya.

Kasus yang menyeret empat petinggi PT Inco Tbk ke meja hijau, bermula dari laporan LSM DAS Larona dan Forum Lingkungan Hijau Lutim ke Polres Lutim. Kedua lembaga tersebut menemukan aktivitas pembukaan jalan PT Inco di daerah Seba-seba yang berbatasan dengan Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah, berada dalam areal hutan lindung.

Laporan dua lembaga tersebut diperkuat pula temuan Dinas Kehutanan Lutim di lapangan, yakni adanya pembukaan lahan yang dijadikan jalan oleh PT Inco dalam areal hutan lindung di daerah Seba-seba. Atas kasus ini, Polres Lutim menyelidikinya sehingga empat petinggi PT Inco tersebut dijadikan sebagai tersangka dan diajukan hingga ke pengadilan.

Anda sedang membaca artikel PT International Nickel Indonesia dan artikel ini url permalinknya adalah http://bloger-sejati.blogspot.com/2011/09/pt-international-nickel-indonesia.html
Semoga artikel PT International Nickel Indonesia ini bisa bermanfaat.

0 komentar:

 
Copyright © 2015 Blogger Sejati All Rights Reserved
Hari Agustomo Nugroho